Asmaul Husna

Asmaul Husna

Pesan

Kebahagian itu karena adanya cinta,maka jika tanpa cinta kebahagiaan akan sirna,jika kebahagian sirna akan tampaklah kegalauan hati, karena hati pengendali raga, maka jikalau sakit hati, sakitlah semua, oleh karenanya perolehlah cinta, kemanakah mencari cinta,tak perlulah mencarinya,karena cinta ada di manapun kita berada, bukanlah kiranya mencari,tetapi perkenankanlah mendekatinya, mendekat kepada penguasa cinta,pemilik alam semesta & tentulah sang Maha Agung yg bersifat tak seperti makhluk-Nya ...

Pages - Menu

Thursday, April 19, 2012

Untaian Kalimat Pemicu Semangat

بسم الله الرحمن الرحيم

Begitu indah, setiap kisah dalam lingkup perputaran waktu, silih berganti meracik kejadian demi kejadian, membuat sebuah sejarah yang bukan sekedar dikenang di masa depan, tapi sebagai pedoman alamiah ilahiyah untuk masa depan yang lebih penuh berkah. Kadang, sebuah duka yang datang membuat hati terasa perih, sedih, pedih. Namun, kemudian sebuah suka datang menyambut, perasaan bahagia, tenang, tentram membuat senyuman indah tiada terkira. Inilah "du-ni-a", tempat dimana insan bernyawa mencari jalan menuju ketenangan, yang pada sebuah pencariannya, kesukaran beribaratkan kerikil tajam berhamburan menjadi ujian iman bagi hamba-Nya.
Allah SWT, dalam Firman-Nya :

وَمِن كُلِّ شَىْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz-Dzaariyaat:49).


Sebuah ayat yang sarat dengan makna, dimana Allah mangatakan pada ayat di atas. Bahwa semua yang Allah ciptakan, telah diatur Allah secara berpasanga-pasangan. Serupa malam yang tertutup tirai hitam berlukiskan gemerlap bintang gemintang, bersama siang yang derang menderang, diawali dengan pagi berembun, sejuk yang terasa, kabut sisa dinginnya malam pecah tertembus sang mentari. Kemudian diciptakan Allah pula berpasang-pasangan, seorang laki-laki dengan seorang perempuan, besar-kecil, utara-selatan, panas-dingin, sukses-gagal, dan bermacam-macam lagi yang Allah ciptakan mereka secara berpasang-pasangan. Semua hanya agar makhluk-Nya ingat dengan kebesaran Allah SWT. Sungguh Maha Besar Allah.

Al-Qur’an membawa bukti bahwa semua yang ada di alam semesta ini tak lepas dari campur tangan Allah. Tanpa campur tangan-Nya, tanpa kendali dari Allah, mustahil bagi alam semesta ini mampu menjalakan aktifitasnya. Setiap kejadian, peristiwa, baik rahmat maupun bencana sudah ditentukan oleh Allah dalam takdir-Nya. Dari hal yang paling kecil, hingga tiada mampu indera kita menangkapnya. Siklus hidup bakteri, virus, regenerasi sel, bahkan dalam penciptaan manusia, Allah sudah mengatur dengan ke-Maha Teliti-an Allah. Apalagi hal-hal yang nyata terlihat besar, tentu tiada kesukaran sedikitpun Allah mengaturnya.

Ayat-ayat Al-Qur’an menyingkap kebesaran Allah, setiap kalimat, kata demi kata bahkan huruf dari Al-Qur’an sarat dengan makna. Sepatutnya, kalimat-kalimat Al-Qur’an, menjadi pintu menuju kebahagiaan bagi kita. Al-Qur’an menjadi penyemangat bagi kita, memahami arti kebesaran Allah untuk diterapkan dalam kehidupan. Jika kita telah memahami dan merasakan kebesaran Allah, maka tidak ada lagi perasaan susah, gelisah, sedih dan takut. Kita dapat menyadari, inilah yang Allah berikan kepada kita, semata agar manusia ingat kepada-Nya, kembali kepada-Nya jika telah tersesat jauh atau menambah kedekatan bersama-Nya di mana pun, kapan pun dan dalam kondisi bagaimana pun, selama ruh masih belum meninggalkan jasad dan bergerak mengikui alur takdir-Nya.

Ada beberapa kalimat penyemangat hidup yang bersumber dari Firman Allah Al-Qur’an, yang umumnya sudah populer dikalangan publik. Yang mana kalimat-kalimat tersebut, jika kita renungi dan pahami secara mendalam, maka hikmah di dalamnya sangatlah luas. Pada makalah ini, penulis akan menjelaskan 3 kalimat pemicu semangat yang bersumber dari Al-Qur’an.
1.       Laa Tahzan

“Laa Tahzan innallaha ma’ana”, mungkin kalimat ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kalimat yang bersumber dari Al-Qur’an ini terdapat pada surah At-Taubah ayat 40.

لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا

Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita”.

Pada ayat di atas, Allah dengan kalimat Laa-Tahzan, memberi nasehat kepada manusia, bahwa janganlah kita bersedih atau berduka cita. Yang dimaksud bersedih di sini adalah bersedih yang berlebih-lebihan ketika mendapat hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti bencana, musibah dan sesuatu yang menyebabkan kesedihan. Seperti berduka hingga lupa dengan kewajiban-kewajiban kepada-Nya atau bahkan membentak-bentak takdir yang sudah ditentukan oleh-Nya.

“Jangan bersedih” kata Allah, karena Allah pasti bersama kita. Musibah, bencana dan cobaan datangnya dari Allah, maka kembalikanlah kepada Allah. Ujian ataupun cobaan itu merupakan tanda cintanya Allah kepada kita. Jika Allah cinta dengan makhluk-Nya, pasti Allah akan memberi ujian yang semata untuk meninggikan derajat makhluk-Nya sendiri disisi-Nya. Kebanyakan manusia salah berpikir, manusia ingin dicintai Allah, tetapi tidak ingin diuji oleh Allah. Ujian dapat kita umpamankan seperti kita ingin mendapatkan gelar sarjana, sebelum mendapatkan gelar tentu kita harus melewati ujian akhir dulu. Tanpa ujian mana bisa gelar bisa kita dapatkan, begitu juga ketika kita ingin mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.

Ujian atau cobaan bukan sebuah bencana, melainkan sebuah peristiwa yang perlu untuk diambil hikmahnya. Tidak ada manfaatnya kita bersedih berlebih-lebihan, bukankan Allah sudah menentukan takdir kita. Semua yang terjadi hari ini pasti akan berakhir, sebaiknya kita berpikir positf saja. Tanamkan semangat dihati, bahwa besok harus lebih baik daripada hari ini. Laa Tahzan, Allah akan selalu di samping kita, selama kita selalu mendekat kepada-Nya.
2.       Laa Tay-asu

Kalimat ini masih ada hubungan dengan kalimat sebelumnya, kalimat “Laa Tay-asu” yang lengkapnya “Laa Tay-asu Mirrauhillah” yang berarti “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah”. Kalimat ini terdapat pada Firman Allah surah Yusuf ayat 87,

وَلاَ تَيْأَسُواْ مِن رَّوْحِ اللهِ

... dan Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah”.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kita jangan berputus asa, karena Allah akan memberi kita rahmat. Dengan rahmat Allah, maka apapun kebaikan dunia dan akhirat pasti  dapat kita raih. Pada ayat di atas, pada ayat lengkap dengan arti lengkapnya yaitu “dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. Mengapa kata dalam ayat tersebuat dikatakan bahwa tiada berputus asa melainkan kaum yang kafir ?

Coba kita ingat di zaman jahiliyah dulu, zaman Nabi Muhammad, apabila mereka melahirkan anak perempuan, mereka kubur hidup-hidup anak tersebut, mereka tidak suka, anak perempuan dianggap aib, hingga tidak ada cara lain selain dikubur hidup-hidup, bukankah itu merupakan putus asa ? Mereka sudah pasrah dengan adat seperti itu. Itulah mengapa diturunkan Nabi Muhammad Saw. sebagai pembawa kabar gembira, sebagai penghibur hati mereka yang sudah dalam keadaan putus asa.

Banyak kita dengar, berita-berita atau peristiwa tentang orang yang putus asa, ada yang bunuh diri minum racun, lompat dari ketinggian dan lain sebagainya. Itu merupakan hal yang haram, mereka lakukan itu karena lupa dengan rahmat Allah. Mereka lupa kemana harus mengembalikan semua masalah, kemana tempat mengadu, hati mereka kosong, hingga syetan yang membisiki mereka untuk melakukan hal yang diharamkan.

Allah Maha Adil, semua ujian yang diberikan-Nya sudah sesuai dengan kemampuan kita. Setiap takdir dan ketentuan-Nya dibuat dengan Rahman dan Rahim, dengan kasih dan sayang Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Mengadulah kepada Allah, berdoa kepada-Nya niscaya akan dikabulkan-Nya. Allah terlah berjanji dalan Firman-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

dan Tuhanmu berfirman : “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku kabulkan bagimu” ” (Al-Mu’min : 60).

Ketika ditimpa masalah, musibah ataupun bencana, datanglah kepada Allah. Mohon kepada-Nya, berdoa dengan khusyuk dan bersabar. Allah pasti akan mengabulkan doa kita, aamiin.
3.       Innallaha ma’as shobiriin

Kalimat yang terakhir pada pembahasan makalah ini terdapat pada beberapa surah dalam Al-Qur’an, salah satunya pada surah Al-Baqarah ayat 153,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah : 153).

Kata “sesungguhnya”, berarti dengan seungguh-sungguh, memang benar dan tiada diragukan bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar. Jika Allah bersama orang-orang yang sabar, tentu orang-orang yang sabar akan selalu ingat dengan Allah. Dengan dia ingat dengan Allah, ketika ujian datang, bukan bencana yang datang, malahan rahmat yang didapatnya. Akan diangkat derajatnya disisi Allah.

Dalam kehidupan, sabar itu ada terbagi 2 macam, yaitu sabar ketika mendapat cobaan dan sabar ketika mendapat nikmat atau kebahagiaan. Sabar ketika mendapat nikmat, berarti syukur, ini merupakan sabar yang paling sulit. Karena, kebanyakan dari kita, jika dalam keadaan penuh nikmat, suka cita, masalah selalu beres, kebanyakan pasti lupa dengan Allah. Dalam keadaan lupa seperti inilah yang kemudian membuat Allah memberi teguran berupa ujian cobaan. Karena kebanyakan manusia akan lebih ingat dengan Allah ketika dalam keadaan susah, inilah sabar dalam keadaan mendapat cobaan.

Oleh karena itu, mari kita jadi orang-orang yang sabar, bangkitkan semangat jiwa, beri motivasi diri, semua ada jalannya, semua pasti ada akhirnya, “Fa inna ma’al ushri yushraa, inna ma’al ushri yushra”, maka sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan. Dengan penyebutan 2 kali Allah menyatakan, yang berarti bahwa dalam kesulitan itu masih banyak kebaikannya juga.

Dari 3 kalimat di atas, secara umum mengingatkan kita agar selalu dekat dengan Allah, karena dengan dekat kepada-Nya, Dia akan selalu bersama kita. Jangan lupa menunaikan kewajiban kepada-Nya, bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika mendapat coba ujian. Selain itu juga perbanyak lah shalawat atas Nabi Muhammad Saw., dengan ingat kepada beliau, semoga kita juga diingat beliau sebagai hambanya di akhirat nanti, aamiin.

Jangan bersedih dan jangan berputus asa, bersabarlah, mari mendekat kepada Allah.  Sabar adalah ibadah, yang berarti termasuk ke dalam berjuang menjaga agama-Nya, berjuang di jalan Allah ‘azza wa jalla.

Laa hawla walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil adzhim

 Mohon kritik dan saran dari pengunjung, terima kasih, assalamu 'alaikum warohmatullahi wabarakatuh,

0 komentar:

Post a Comment

Selamat berkunjung di blog saya, terima kasih.

Labels